Belajar Juga Harus Direncanakan?

“Pendidikan adalah tiket ke masa depan. Hari esok dimiliki oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini” – Malcolm X

Tugas Itu Mudah !

“Belajar memang bukan satu-satunya tujuan hidup kita. Tetapi kalau itu saja kita tidak sanggup atasi, lantas apa yang akan kita capai” – Shim Shangmin

The Spirit Of Learning

“Jika seseorang bepergian dengan tujuan mencari ilmu, maka Allah akan menjadikan perjalanannya seperti perjalanan menuju surga” – Nabi Muhammad SAW

Man Jadda Wajada !

“Pembelajaran tidak didapat dengan kebetulan. Ia harus dicari dengan semangat dan disimak dengan tekun” – Abigail Adams

Learning From Mistake

“Adalah baik untuk merayakan kesuksesan, tapi hal yang lebih penting adalah untuk mengambil pelajaran dari kegagalan” – Bill Gates

Resum Buku Bank Budgeting Teguh Pudjo Muljono_BAB X

ANGGARAN PERMODALAN BANK

A.    BENTUK-BENTUK  MODAL BANK
Modal adalah sejumlah dana yang ditanamkan ke dalam suatu badan usaha oleh para pemiliknya untuk melakukan berbagai macam kegiatan usaha yang akan dilakukan. Bagi bank, modal besar yang dimiliki akan menimbulkan kepercayaan lebih besar dari nasabahnya untuk mendepositkan dananya di bank tersebut. Dengan dana yang besar tentu bank dapat mengembangkan bisnisnya menjadi semakin besar.
a.      Modal Inti
Modal ini terdiri dari
1.      Modal Disetor, yaitu modal yang telah disetor oleh para pemiliknya.
2.      Agio Saham, yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya.
3.      Modal Sumbangan, yaitu modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham, termasuk selisih antara nilai yang tercatat dengan harga jual apabila saham tersebut dijual. Termasuk juga modal dari donasi pihak luar.
4.      Cadangan Umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba ditahan atau laba bersih setelah dikurangi pajak dan mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham atau rapat anggota sesuai anggaran dasar masing-masing.
5.      Cadangan Tujuan, yaitu bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham atau rapat anggota.
6.      Laba Yang Ditahan (Retained Earnings), yaitu saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang oleh rapat umum pemegang saham atau rapat anggota diputuskan untuk tidak dibagikan.
7.      Laba Tahun Lalu, yaitu laba bersih tahun-tahun lalu setelah dikurangi pajak dan belum ditentukan penggunaannya oleh rapat umum pemegang saham atau rapat anggota. Jika bank mempunyai saldo rugi pada tahun-tahun lalu, seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.
8.      Laba Tahun Berjalan, yaitu laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran utang pajak. Jumlah laba tahun buku berjalan yang diperhitungkan sebagai modal inti hanya sebesar 50%. Jika bank mengalami kerugian pada tahun berjalan, seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.

b.      Modal Pelengkap
Modal ini terdiri dari :
1.      Cadangan Revaliasi Aktiva Tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak.
2.      Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif, yaitu cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan. Hal ini dimaksudkan untuk menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif.
3.      Modal Pinjaman (Modal Kuasi), yaitu utang yang didukung oleh instrumen atau warkat yang sifatnya seperti modal.
4.      Pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman yang harus memenuhi berbagai syarat, seperti ada perjanjian tertulis antara bank dan pemberi pinjaman, mendapat persetujuan dari bank Indonesia, minimal berjangka 5 tahun, dan pelunasan sebelum jatuh tempo harus atas persetujuan Bank Indonesia.


B.     KEBIJAKAN PENGENDALIAN MODAL
Langkah pertama yang harus di lakukan oleh manajemen bank dalam upaya peningkatan modal adalah harus dapat memenuhi ketentuan legalitas tentang kebutuhan modal minimum. Baru selanjutnya mengkomposisikan permodalan dan jumlah permodalan yang ada dapat ditingkatkan lagi secara terus menerus agar dapat melakukan ekspansi usahanya.


a.      Tata Cara Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum
1.      Dasar Perhitungan Kebutuhan Modal
Perhitungan penyediaan modal minimum atau kecukupan modal bank (capital adequacy) didasarkan kepada rasio atau perbandingan antara modal yang dimiliki bank dan jumlah Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Aktiva dalam perhitungan ini mencakup aktiva yang tercantum dalam neraca maupun aktiva yang bersifat administratif sebagaimana tercermin dalam kewajiban yang masih bersifat kontingen dan atau komitmen yang disediakan bagi pihak ketiga.
2.      Bobot Resiko Aktiva Neraca
0 %
1)      Kas
2)      Emas dan Mata Uang Emas
3)      Tagihan kepada, atau tagihan yang dijamin oleh, atau surat berharga yang diterbitkan atau dijamin oleh :
v  Pemerintah pusat RI
v  Bank Indonesia
v  Bank sentral Negara lain
v  Pemerintah pusat Negara lain.
4)      Tagihan yang dijamin dengan uang kas, uang kertas asing, emas, mata uang emas serta giro, deposito dan tabungan pada bank yang bersangkutan sebesar nilai jaminannya.
20 %
1)      Tagihan kepada, atau tagihan yang dijamin oleh, atau surat berharga yang diterbitkan atau dijamin oleh :
v  Bank-bank didalam negeri (termasuk kantor cabang bank asing)
v  Pemerintah daerah di Indonesia
v  Lembaga non-departemen di RI
v  Bank-bank pembangunan multilateral seperti : ABD,IDB,IBRD,AFDB dan EIB
v  Bank-bank diluar negeri
2)      Tagihan dalam rangka inkaso kredit kepemilikan rumah (KPR) yang dijamin oleh hipotek pertama dengan tujuan untuk dihuni.
3)      Tagihan kepada, atau tagihan yang dijamin oleh, atau surat berharga yang diterbitkan atau dijamin oleh BUMN dan perusahaan milik pemerintah Negara lain.
50 %
1)      Tagihan kepada, atau tagihan yang dijamin oleh,atau surat   berharga yang diterbitkan atau dijamin oleh :
v  BUMN atau BUMD
v  Perusahaan milik pemerintah pusat Negara non-OECD
v  Koperasi
v  Perusahaan swasta
v  Perorangan
v  Lain-lain
2)      Penyetoran yang tidak dikonsolidasikan
3)      Aktiva tetap dan inventaris (nilai buku)
4)      Rupa-rupa aktiva
5)      Antar kantor aktiva neto.
3.      Bobot Risiko Aktiva Administrasi
v  Tahap Pertama
Penetapan faktor konversinya, yaitu faktor tertentu yang digunakan untuk mengkonversikan aktiva administrative kedalam aktiva neraca yang menjadi padannannya.
v  Tahap Kedua
Menghitung bobot risiko aktiva administrative dengan mengalikan faktor konversi dengan bobot risiko aktiva neraca padanannya.
4.      Cara Perhitungan Kebutuhan Modal
a)      Kebutuhan modal berdasarkan ATMR tesebut penjumlahan ATMR minimum bank dihitung. Sejalan dengan prinsip tersebut ATMR merupakan aktiva neraca dan ATMR aktiva administrative
v  ATMR aktiva neraca mengalihkan nilai bersangkutan dengan diperoleh dengan cara nominal aktiva yang bobot risikonya
v  ATMR aktiva administrative diperoleh dengan cara mengalihkan nilai nominal rekening administrative yang bersangkutan dengan bobot dari risikonya.
b)      Kewajiban penyediaan modal rant sebesar 8 % ATMR
c)      Rasio modal bank dihitung dengan membandingkan modal tersebut dengan ATMR
d)     Setelah membandingkan rasio modal, maka dapat diketahui apakah bank yang bersangkutan sesuai ketentuan atau tidak.
b.      Upaya Peningkatan Modal
Untuk mempertahankan dan memelihara populasi jumlah modal yang memadai menurut ketentuan bank sentral yang ada dapat dilakukan dengan cara :
1.      Pengendalian ATMR
Mengingat jumlah modal minimum yang diperlukan menurut bank sentral adalah jumlah modal inti dan pelengkap dibagi dengan ATMR yang nimimal harus menghasilkan angka tidak boleh lebih kecil dari 8%, maka apabila jumlah modal inti dan modal pelengkap tidak dapat diperbesar maka otomatis jumlah ATMR yang harus dikendalikan. Pengendalian ATMR tidak hanya dalam bentuk pembatasan ekspansi kredit baru atau menambahkan aktiva baru saja, tetapi dapat juga dengan cara melakukan penggeseran aktiva-aktiva yang bobotnya risikonya diganti dengan aktiva-aktiva yang bobot  risikonya rendah. Dengan cara ini menghasilkan jumlah ATMR yang konstan walaupun total earning asset secara keseluruhan mengalami pertumbuhan.
2.      Menambah Setoran Modal
Untuk memperbesar permodalan  (modal inti) dari suatu bank dapat ditempuh melalui penambahan modal yang disetor oleh para pemilik saham, baik untuk bank sudah Go Public maupun yang belum Go Public penambahan setoran modal ini akan dapat langsung menambah jumlah modal bank yang bersangkutan. Yang jadi masalah yaitu bagaiman prosedur yang harus ditempuh untuk penambahan modal yang telah disetor melalui pasar modal mengingat penambahan modala dari pemilik modal yang belum Go  public bersifat sangat terbatas pada kemampuan pemnegang saham yang ada. Secara garis besar prosedur penjualan modal melaui pasar modal dapat diuraikan sebagai berikut:
a)      Perumusan kebijakan permodalan
b)      Penyerahan letter of intent kepada Bapepam
c)      Penunjukan lembaga penunjang untuk emisi saham
d)     Persiapan kelengkapan syarat-syarat administrasi
e)      Pendaftaran ke Bapepam
f)       Pembahasan dengan pihak Bapepam
g)      Dengar pendapat terbatas
h)      Penawaran saham  melalui primary market
3.      Mempertinggi Agio Saham
Bank yang dapat selalu menjaga performancenya dengan baik terutama tingkat profitabilitasnya yang tingga dan mampu membagiakan dividen dengan baik serta prospek usahanya selalu dapat berkembang dan dapat memenuhi ketentuan. Prudential banking regulation dengan baik, maka ada kemungkinan nilai saham dari bank tersebut di pasar sekunder akan dapat lebih besar dari nilaii nominalnya. Selisih antara nilai pasar saham yang lebih besar dari harga nominal tersebut memiliki saham yang mempunyai agio yang tinggi maka agio saham tersebut akan otomatis menjadi sumber modal inti dari bank yang bersangkutan.
4.      Plow Back Policy
Untuk menambah permodalan bank yang bersangkutan maka jumlah laba yang dihasilkan dapat ditanamkan kembali dalam bank yang bersangkutan, dalam berbagai bentuk antara lain:
a)      Laba yang ditahan
b)      Stock dividen
c)      Stock splits
d)     Pembentukan cadangan

5.      Penambahan modal pelengkap
Disamping modal inti, masih terdapat modal pelengkap yang secara keseluruhan dapat diakui sebesar 100% dari modal intinya. Dengan demikian penambahan modal inti akan mempunyai potensi multiplier effeck terhadap penambahan modal secara keseluruhan menjadi dua kali, yaitu satu bagian dari modal inti itu sendiri dan satu bagian lainnya dari modal pelengkap. Sedangkan penambahan modal pelengkap dapat diusahakan dari berbagai mcam sumber antara lain:
a)      Revaluasi aktiva tetap
b)      Melalui pembentukan cadangan penghapusan aktiva produktif
c)      Penambahan modal pinjaman
d)     Pinjaman subordinasi


C.    REKAPITULASI ANGGARAN PERMODALAN

Setelah mengetahui jenis-jenis permodalan yang ada pada suatu bank, tata cara perhitungan kebutuhan modal umum, upaya-upaya untuk menambah permodalan, maka perlu disusun rekapitulasi anggaran permodalan.

Resum Buku Bank Budgeting Teguh Pudjo Muljono_BAB IX

ANGGARAN BIAYA OPERASIONAL

Bank merupakan suatu industri jasa di bidang keuangan maka pasti terdapat perbedaan dalam komponen biaya operasionil yang ada. Bank akan membutuhkan dukungan dana untuk biaya operasionil maupun nonoperasionilnya. Dari tingkat efesiensi usaha dalam suatu bank akan menimbulkan perbedaan/perbandingan antara biaya bunga dana (interest exspense) dan biaya operasionil lainnya.
Biaya operasionil lain yang mempunyai porsi terbesar bagi setiap bank antara lain biaya tenaga kerja, biaya komunikasi, biaya pemasaran, biaya transportasi dan lain-lain. Biaya-biaya tersebut akan menjadi tanggung jawab bagi bank yang bersangkutan. Adapun bentuk-bentuk biaya yang harus dikeluarkan leh setiap bank antara lain meliputi :

A.    BIAYA PERSONIL
Biaya ini timbul sejak mulai recruitment, pendidikan/pelatihan sampai dengan pegawai yang bersangkutan meninggal. Berbagai macam biaya personil yang harus dikeluarkan oleh bank di antaranya adalah sebagai berikut :
a.      Pada Saat Recruiment Calon Pegawai :
Ø  Biaya survey kebutuhan personil untuk tahun yang akan datang.
Ø  Biaya konsultasi untuk perencanaan kebutuhan calon pegawai, calon manajer dan seterusnya.
Ø  Biaya pemasangan advertensi di surat kabara.
Ø  Biaya konsultasi untuk recruitment.
Ø  Biaya pelaksanaan testing/seleksi calon pegawai, biaya koreksi.
Ø  Biaya penyusunan materi testing dan lain-lainnya.
b.      Pada Masa Propabilition Meliputi :
Ø  Biaya pendidikan dan pelatihan.
Ø  Biaya on the job training, studi tour.
Ø  Biaya material untuk pendidikan latihan.
Ø  Biaya akomodasi selama pendidikan.
Ø  Biaya honorarium calon pegawai.
Ø  Biaya honorarium dosen/pengajar.
Ø  Biaya ujian, penyusunan laporan/tesis.
Ø  Biaya pengangkatan pegawai/penempatan pegawai, dan lain-lain.
c.       Pada Masa Tugas Efektif Bank akan Mengeluarkan Berbagai Macam Biaya antara Lain :
Ø  Gaji pegawai yang bersangkutan secara buanan.
Ø  Pajak penghasilan yang ditanggung oleh bank.
Ø  Pakaian seragam, pakaian kerja, pakaian dinas.
Ø  Tunjangan transpor, perumahan, kesehatan, cuti dan tunjangan hari raya/hari keagamaan.
Ø  Bonus, tantien, jasa produksi.
Ø  Credit call baik annual fee maupun biaya yang dikeluarkan.
Ø  Biaya untuk propesional membership.
Ø  Biaya untuk langganan majalah surat kabar, dan masih banyak yang lainnya.
d.      Pada Masa Pensiun :
Ø  Gaji pensiun bulanan/limpsum.
Ø  Pembayaran tunjangan hari tua.
Ø  Biaya perawatan kesehatan dan asuransi kesehatan.
Ø  Tunjangan rumah tangga, dan lain-lain.
Setiap bank akan berbeda-beda dalam menentukan/memberikan jenis konspesasi, gaji, fringe benefit kepada para pegawai dan pejabatnya. Selain dari itu, jenis konspensasi, gaji, fringe benefit yang akan diberikan juga dibedakan menurut ranking, kepangkatan, tingkat jabatan yang ada. Semakin tinggi ranking atau tingkat jabatan seseorang maka semakin tinggi pula imabalan yang akan diterima, hal ini diharapkan akan meningkatkan performance yang lebih baik dari setiap pegawai dalam suatu bank.
Agar biaya personil tersebut dapat disusun dengan baik, maka perlu disusunnya kebutuhan personalia dalam suatu bank menurut jenis spesialisasi/jabatan yang diperlukan.

Berbagai macam jenis spesialisasi/jabatan yang diperlukan dalam operasionil sehari-hari antara lain :


1.       Presiden Komisaris.
2.       Komisaris.
3.       President Director/Direktur Utama.
4.       Executive Vice President / Managing Director.
5.       Senior Vice President / Head Group/General Manager.
6.       Deputy General Manager.
7.       Area Manager/Kepala Wilayah.
8.       Vice President.
9.       Auditor/Chief Auditor sampai dengan Audit Clerk.
10.   Dealer/Tander.
11.   Relationship Manager/Account Officer.
12.   Customer Service Officer.
13.   Loan Officer.
14.   Head Teller-Teller.
15.   Loan Administration.
16.   Trade Service Officer.
17.   Clearingmen.
18.   Computer Programer, System Analist.
19.   Computer Operator.
20.   Project Identification/Marketing Officer.
21.   Accountant.
22.   Lawyer/Ahli Hukum/Penasihat Hukum.
23.   Communication Operator.
24.   Clerk/Pegawai Tata Usaha.
25.   Driver.
26.   Security officer/Satpam.



Dari perincian yang telah ada akan lebih memudahkan untuk menghitung berapa biaya personalia yang akan dikeluarkan, sebab :
Ø  Masing-masing jabatan / profesi sudah mempunyai ancar-ancar pasaran gaji/penghasilan/fringe benefit /konspesasi yang lazim dibayarkan oleh suatu bank kepada para pegawainya tersebut.
Ø  Isian jumlah personalia/jabatan dapat diketahui tinggal mengalikan dengan gaji/penghasilan yang diperlukan.
Di samping itu juga jenis-jenis pengeluaran dapat dipakai untuk perencanaan keperluan biaya personalia yang dibutuhkan. Setelah selesai disusun jenis jabatan, standar gaji/fringe benefit, jenis-jenis pembayaran yang dberikan dapat disusun rekapitulasi anggaran biaya personalia sebagai bagian dari komponen biaya operasionil bank.



B.     BIAYA MARKETING/PEMASARAN
Marketing merupakan suatu proses pemberian kepuasan kepada para nasabahnya dengan suatu laba yang diperoleh bank. Pengertian pemberi kepuasan yang dimaksud memiliki dimensi yang luas antara lainnya menyangkut :
v  Kualitas produk dan jasa yang diberikan.
v  Kecepatan proses pelayanan dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
v  Tingkat harga (tingkat suku bunga, suku bunga dana, selisih kurs, komisi/fee) yang dapat diterima oleh nasabah.
v  Kemudahan dan kenyamanan nasabah ketika menghubungi bank untuk melakukan suatu transaksi.
v  Tersedianya informasi yang jelas tentang spesifikasi/terms and condition dari produk dan jasa yang ditawarkan.
v  Tersedianya fasilitas berupa sarana fisik yang memadai maupun jenis variasi produk dan jasa dalam sebuah bank.
v  Adanya Company image yang baik, sehingga merupakan kebanggaan serta rasa aman bagi seorang nasabah.
v  Dan lain-lain.
Adapun kegiatan atau fungsi marketing antara lain :
a.      Di dalam Kaitannya dengan Penciptaan Produk yang Berkualitas
1)      Melakukan market research untuk mengetahui
Ø  Customer needs
Ø  Posisi bank di dalam pasar
Ø  Jenis produk dan jasa yang dapat diciptakan dan di jual untuk memenuhi customer needs
Ø  Volume kebutuhan akan suatu produk dan jasa yang dapat dipasarkan
Ø  Segmen pasar yang akan direkut/dituju
Ø  Tingkat harga yang dapat dipasang pada produk dan jasa yang akan ditawarkan kepada para nasabahnya oleh bank-bank pesaingnya
Ø  Marketing channels yang akan ditempuh.


2)      Product design dan development
Ø  Penciptaan produk dan jasa baru yang dapat dihasilkan oleh bank sesuai dengan profisionalisme para stafnya, serta sesuai dengan sarana yang ada dalam rangka memenuhi kebutuhan para nasabahnya.
Ø  Melakukan perbaikan, modifikasi produk dan jasa lama yang sudah ada agar dapat lebih berorientasi ke pasar dan dapat memperpanjang life cyclenya atau lebih dapat menarik para calon nasabah baru.
b.      Perbaikan Proses Product Placement
Agar produk dan jasa dapat dijual kepada para nasabahnya untuk mencapai segment pasar yang dituju, maka diperlukan product placement yang tepat antara lain meliputi :
1)      Network Development/Pengembangan jaringan Kerja
Untuk dapat mencapai target yang ingin dicapai tersebut maka perlu dikembangkan :
Ø  Jaringan kerja yang sesuai dengan segmen pasar yang dituju, jumlah cabang dan ATM yang memadai.
Ø  Office Layout yang memberikan kenyamanan kepada para nasabahnya.
Ø  Sarana telekomunikasi yang memadai, tersedianya fasilitas phone banking faximilie, telex, telepon dan saluran telekomunikasi lainnya.
Ø  Jumlah correspondent banking yang harus baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
2)      System Prosedur Kerja
Ø  System dan prosedur kerja yang efesien untuk tiap jenis produk dan jasa yang dijual kepada para nasabahnya.
Ø  Organisasi dan pembagian wewenang yang dapat memberikan keputusan dengan cepat.
Ø  Profesionalisme para petugas/pejabat bank di dalam menyampaikan produk dan jasa kepada para nasabahnya.


c.       Promotion
Berbagai kegiatan dalam melakukan promosi meliputi :
v  Perumusan pesan promosi yang akan dikomunikasikan kepada para nasabah/calon nasabah, perlu diingat bahwa pada hakikatnya nasabah tidak membeli produk maupun jasa tetapi lebih berorientasi kepada pemecahan ,asalah keuangan yang dihadapi serta pemuasan atas kebutuhannya.
v  Penetapan target yang ingin dituju (segmen pasar) oleh bank di dalam memasarkan produk dan jasanya.
v  Ada beberapa media promosi yang dapat dipilih untuk melakukan kegiatan promosi baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk gabungan yang lebih dikenal dengan istilah promotion mix.
Media promosi yang dapat ditempuh oleh bank antara lain meliputi:
  1. Personal selling, yaitu proses pasar melalui hubungann tatap muka antara sales person (branch manager, relationship manager, account officer, customer service, teller, direksi bank, dan lain-lain) dengan nasabah (calon nasabah).
2.      Iklan, yaitu suatu bentuk penyajian pesan promosi atas produk dan jasa yang akan dipasarkan yang dapat dilakukan melalui berbagai macam media ( saran promosi) antara lain billboard/papan reklame, advertisement/advertensi di mass media cetak di surat kabar, audio visual, outdoor promotion, direct mail, souvenir/gift, sponshorship, pemasangan banner/spanduk, entertainment, seminar/presentasi  dan pameran.
3.      Public Relation, yaitu salah satu bentuk promosi penjualan dengan menciptakan hubungan yang baik dengan masyarakat luas pada umumnya dan khususnya dengan para nasabahnya terutama di dalam menjaga citra perusahaan (company image) maupun citra akan produk dan jasa yang tersedia.

d.          Proses Pricing
Yaitu strategi pemasaran menggunakan mekanisme penetapan harga produk dan jasa bank yang dipasarkan kepada konsumen. Apabila harga turun akan mengakibatkan penjualan semakin meningkat dan apabila harga menjadi naik volume penjualan akan menurun. Dengan demikian penetapan harga (tarif jasa-jasa perbankan) yang tepat diharapkan dapat memaksimumkan volume pemasaran yang akan diperoleh.

C.    BIAYA KOMUNIKASI & TRASNPORTASI
Biaya komunikasi dan trasnportasi ini cukup tinggi karena bisnis bank memerlukan mobilitas operasionil yang cepat dan mempunyai frekuensi transaksi yang tinggi. Memang ada sebagian biaya komunikasi yang dapat dilimpahkan kepada pihak nasabah, tetapi banyak juga biaya komunikasi yang harus ditanggung oleh bank sendiri dan tidak dapat dilimpahkan pembayarannya kepada pihak nasabah.
Adapun berbagai jenis biaya komunikasi dan transportasi yang perlu dianggarkan oleh setiap periode pembukuan dapatlah disajikan sebagai berikut :
a.      Biaya Komunikasi itu sendiri meliputi :


v  Biaya sewa post box dari kantor pos
v  Biaya perangko temple
v  Biaya perangko tera
v  Biaya post paket
v  Biaya courir service
v  Biaya telepon lokal/interlokal
v  Biaya faximilie
v  Biaya telex
v  Biaya telegram
v  Biaya sewa satelit
v  Biaya radio komunikasi, dan lain-lain.


b.      Biaya Transportasi :
v  Tiket pesawat domestic, internnasional
v  Tiket kereta api/bus
v  Tiket kapal laut
v  Biaya parkir
v  Biaya tiket jalan tol
v  Biaya bahan bakar dan service
v  Biaya driver, dan lain-lain.

D.    BIAYA OPERASIONAL LAINNYA
Biaya operasionil lainnya yang dibutuhkan oleh bank untuk mendukung kelancaran usaha sehari-harinya antara lain :
§  Biaya listrik, A/C, air
§  Biaya alat tulis kantor
§  Biaya keamanan/satpam
§  Biaya cleaning service
§  Biaya sewa tanaman hias
§  Biaya makan-minum untuk karyawan
§  Biaya pajak nama dan logo bank
§  Dan lain-lain.

Macam-macam biaya tersebut bersifat tidak langsung (over head expenses) yang merupakan joint cost dan tidak dapat (sulit) dialokasikan kepada suatu jenis produk dan jasa yang dihasilkan oleh suatu bank. Sifat biaya opersionil ini sebagai supporting activities dari main business suatu bank. Namun secara teknis, ada beberapa macam jenis biaya yang sifatnya fixed cost yang tidak tergantung dari volume kegiatan usaha bank.